Perfeksionisme sang Melankolis

Salah satu hal paling menarik yang saya suka amati sehubungan dengan pekerjaan saya sebagai guru adalah kepribadian siswa. Tak salah.. Sebab salah satu artikel yang pernah saya bahas dalam tugas akhir semasa kuliah saya adalah tentang kecenderungan tipe kepribadian siswa. Siswa sebagai peserta didik, sekaligus sebagai manusia. 

Kepribadian manusia memang selalu menarik untuk dipelajari. Florence Litteauer, sebagai salah satu penulis yang bukunya saya jadikan sebagai referensi dalam artikel dimaksud, memilih untuk menggolongkan kepribadian manusia dalam 4 golongan besar. Seseorang boleh jadi termasuk dalam salah 1 dari 4 golongan, tapi juga bisa merupakan kombinasinya. Beberapa orang boleh jadi tak sepakat dengan pendapat ini. Dalam benak mereka, bagaimana bisa milyaran manusia hanya digolongkan ke dalam 4 kategori kepribadian saja? Ya begitulah. Tak ada satu pun hal yang disetujui oleh semua orang. :mrgreen:

Ya. Namanya penelitian kualitatif memang akhirnya hasilnya selalu dipasrahkan pada sudut pandang peneliti dalam mengambil kesimpulan. Tapi tetap dalam rambu metode ilmiah tentunya.

Dalam hal ini, saya sepakat saja dengan pendapat Florence. Setiap orang, yang sudah membaca buku Florence, akan sepakat bahwa semua kita dapat digolongkan dalam 1 diantara 4 kategori tersebut. Dan juga tak menutup kemungkinan ia merupakan penggabungan dari 2 kepribadian, atau 3, bahkan 4 kepribadian.

Ke-empat kepribadian tersebut adalah Sanguinis, Melankolis, Koleris dan Plegmatis.

Nah, dalam tulisan ini saya akan membahas sebuah hal yang menjadi ciri utama kepribadian saya berdasarkan penggolongan kepribadian Florence.

Dalam penggambaran kecenderungan kepribadian oleh Florence, saya termasuk dalam kategori Melankolis. Hal ini berdasarkan tes kepribadian yang telah disediakan di bagian akhir bukunya. Hasil tes ini, menurut salah seorang teman, bisa jadi sedikit berbeda jika dilakukan beberapa kali pada situasi yang berbeda. Itu kelemahannya. Tapi secara penuh, ia tak akan jauh dari hasil semula jika ternyata pada tes pertama seseorang dominan terhadap kepribadian tertentu.

Salah satu yang menarik dari buku Florence Litteauer yang berjudul “Personality Plus” ini bagi saya adalah semua yang ia tuliskan benar-benar menggambarkan tentang ‘aku’ yang sebenarnya. Melankolis yang perfeksionis, yang ingin semuanya sempurna. 🙂

Seakan-akan setelah hidup puluhan tahun di dunia ini, saya akhirnya menemukan seseorang yang bisa menggambarkan bagaimana karakter, kepribadian, watak, mood dan semua hal yang sesuai tentang diri saya.

Itulah hebatnya penelitian. Penggeneralisir-an kesimpulan yang ia lakukan dapat berlaku umum, meskipun pada percobaan hanya dilakukan pada kalangan terbatas.

Sebagai seorang melankolis yang hampir dominan (saya tepatnya perpaduan Melankolis Koleris), perfeksionis juga ternyata mengalir dalam diri saya.

Sebagai Perfeksionis, saya berpendapat bahwa : Jika sesuatu itu bisa dilakukan, maka ia HARUS dilakukan dengan sempurna.

Jika sesuatu bisa dibuat, maka ia harus dibuat sempurna.

Sempurna dari awal rencana, proses, hingga hasil akhir.

Kenyataan ini lantas dihubungkan dengan idealisme, sebuah istilah yang terkadang bikin saya sendiri bingung. Dikatai ‘sok ideal’ kok rasanya seperti sedang diejek ya? 😀

Baca Juga :  Menulis untuk 3 Blog? Fuih ...

Contoh Kasus 1 : Ujian Curang.

Sekolah adalah institusi yang bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik. Civitas akademika yang ada di sekolah bertugas menanamkan kejujuran pada siswa. Dibuktikan dengan saat ulangan harian, setiap guru mengawas dengan sangat ketat. Jika ada siswa yang nyontek, maka guru akan memberikan teguran, memperingatkan hingga merobek jawaban siswa.

Lantas ketika ujian nasional, terjadilah hal sebaliknya.

Saat ujian nasional, image sekolah sebagai sekolah berprestasi diukur dari seberapa tinggi pencapaian nilai rata-rata ujian nasional anak-anak di sekolah bersangkutan. Jika nilai anak-anak rendah, maka image sekolah bisa saja rusak. Akreditasinya bisa turun, pendaftarnya tahun depan bisa berkurang, nama kabupaten juga akan terdampak.

Demi menjaga hal tersebut tidak terjadi, maka pihak sekolah melakukan berbagai cara agar anak-anak mendapatkan hasil yang memuaskan. Pokoknya segala cara. Cara cerdik, cara picik, cara culas. Apalagi jika kepala sekolah mendapat tekanan dari atasan. Wew. Tapi itu kenyataannya.

Nah, kondisi saat ulangan harian di awal berbeda dengan kenyataan saat ujian nasional. Guru yang awalnya ketat mengawas saat ulangan harian, akhirnya malah berduyun-duyun menjadi oknum yang ikut merusak citra jujur saat ujian nasional.

Saat kondisi ini terjadi, ada guru yang memiliki rasa ‘tak enak’ di hatinya. Rasa tak nyaman kalau dia ikut-ikutan merusak usaha pemerintah dalam pelaksanaan ujian jujur. Akhirnya ia menolak diberikan jabatan, menolak ikut melakukan kecurangan.

Apa yang kemudian terjadi dengan guru jujur?

Ia akan dicemooh. Dikatai sok idealis.

Padahal bagi seorang perfeksionis, hal sedemikian itu tak hanya berhubungan dengan idealisme-nya, tapi juga dengan keseluruhan kenyamanan hidupnya.

Bagi orang lain bisa jadi melakukan kecurangan adalah hal biasa, tapi bagi perfeksionis sang melankolis, pantang melakukan itu dalam hidup.

Lebih baik berpegang pada kejujuran, daripada ikut merusak sistem yang telah dibangun. That’s it!

Contoh Kasus 2 : Minta Pindah Kelas.

Pada sebuah rapat kenaikan kelas, ditentukan bahwa seluruh siswa yang naik kelas akan diacak penempatan kelas barunya. Acak terstruktrur. Yakni acak berdasarkan jumlah total nilai.

Prosesnya diawali dengan menjumlah total nilai raport keseluruhan siswa. Setelah itu diranking dari yang tertinggi hingga yang terendah. Siswa kemudian dibagi ke dalam 6 kelas.

Siswa Ranking 1 berada di kelas A.
Siswa Ranking 2 berada di kelas B.
Siswa Ranking 3 berada di kelas C.
Siswa Ranking 4 berada di kelas D.
Siswa Ranking 5 berada di kelas E.
Siswa Ranking 6 berada di kelas F.
Siswa Ranking 7 berada di kelas F lagi.
Siswa tertinggi 8 berada di kelas E lagi.
Siswa tertinggi 9 berada di kelas D lagi.
Siswa tertinggi 10 berada di kelas C lagi.
Siswa tertinggi 11 berada di kelas B lagi.
Siswa tertinggi 12 berada di kelas A lagi.
Siswa tertinggi 13 berada di kelas A lagi.
Siswa tertinggi 14 berada di kelas B lagi.
Siswa tertinggi 15 berada di kelas C lagi.
Dan seterusnya.

Baca Juga :  4 Juta Dibobol dari Kartu Kredit, Bagaimana Cara Komplain ke Bank?

Ketika kelas sudah selesai dibentuk, dipajanglah daftar nama siswa di kelas masing-masing.

Siswa berebutan mencari daftar nama mereka, berlari ke sana ke sini.

Akhirnya semua mendapatkan kelas.

Dua tiga hari kemudian, ada siswa mengaku tak betah belajar di kelas baru mereka. Dan menghubungi wali kelas untuk bisa berpindah ke kelas lain, dimana teman akrab mereka ada di sana.

Masalah muncul.

Agar tetap teratur dalam jumlah dan total nilai, setiap anak yang mengajukan pindah kelas seharusnya mencari anak lain yang nilainya juga setara dengan dia. Tapi itu sulit. Akhirnya, dicarilah siapa saja yang mau pindah ke kelas yang diinginkan.

Kekacauan terjadi. Perankingan yang dibuatkan sejak awal ternyata tidak berguna. Kelas yang awalnya sudah diatur sedemikian detailnya akhirnya harus ‘kacau’ karena lebih dari puluhan siswa meminta untuk bertukar tempat dengan teman lainnya. Dengan alasan yang klise, tak nyaman di sekolah baru.

Kekacauan ini mengganggu para melankolis yang perfeksionis seperti saya.

Ini kadang malah terkesan “TIDAK MANUSIAWI”.

Kenapa?

Saking kerasnya saya mempertahankan keteraturan yang sudah direncanakan, saya melarang anak-anak wali kelas saya untuk pindah kelas. Hal ini membuat beberapa anak menangis berhari-hari, karena selama setahun ke depan tidak bisa sekelas dengan teman-teman akrab mereka.

Bagi melankolis, hal ini bukan hal sederhana. Ini kompleks!

Ketidakteraturan merusak hari-hari kami. Jadi jangan merusaknya dengan mengacak-acak semua yang telah diatur!

Contoh Kasus 3 : Jadwal yang Berubah

Pada persiapan pelaksanaan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS), panitia melakukan berbagai pertemuan yang sangat menyita waktu. Pertemuan ini membahas berbagai hal tentang jadwal, tentang pemateri, waktu pelaksanaan, model pelaksanaan dan seterusnya. Karena pentingnya, rapat dilakukan sebulan sebelum proses PLS dimulai.

Dua hari sebelum PLS, ternyata ada edaran dari provinsi tentang jadwal baru sebagai patokan PLS.

Beberapa guru meminta agar dilakukan rapat ulang, demi menentukan jadwal mana yang harusnya diikuti : jadwal yang dibuat panitia OR jadwal provinsi.

Melankolis yang sempurna dengan cepat menolak menggunakan jadwal provinsi. Bisa bayangkan, kita sudah melakukan persiapan sebulan lantas jadwal akan berubah 2 hari sebelum pelaksanaan?

Ya. Persiapan sebulan akan menjadi sangat sia-sia jika ternyata jadwal yang digunakan adalah jadwal dari provinsi. Jika saya jadi ketua panitia, saya otomatis akan mengundurkan diri jika itu yang terjadi.

Baca Juga :  Sibuk Bisnis, Lupa Tesis

Contoh Kasus 4 : Jam Karet

Setiap kali menjadi guru yang mengajar pada jam pertama di kelas tertentu, saya datang tepat pukul 07.00. Meskipun jam pelajaran dimulai saat 07.15.

Saya memberikan toleransi 5 menit bagi siswa yang datang terlambat. Jika waktu sudah pukul 07.20, maka pintu ditutup dan alasan apa pun yang diberikan tak akan membuat siswa masuk ke dalam kelas.

Ini terlihat tidak manusiawi.

Tapi saya sepakat bahwa menunda pembelajaran berarti memberikan hukuman bagi anak yang datang tepat waktu, dan memberi reward bagi mereka yang datang terlambat. Kenapa saya katakan hukuman? Karena sudah datang lebih cepat, malah disuruh menunggu teman lain, diganggu dengan kehadiran mereka mengetok pintu dan meminta izin. 😀

Contoh Kasus 5 : Rumah Minimalis

Semasa muda, saya menempatkan semua barang secara rapi di dalam kamar tidur. Setiap kali ada orang yang masuk ke dalam kamar dan memindahkan posisi beberapa barang, saya akan mengaturnya ke tempat semula.

Kebiasaan ini terbawa ketika sudah berkeluarga dan punya rumah sendiri.

Mungkin saat masih berdua bersama istri, tak begitu susah mengatur rumah. Ia tau bagaimana mengatur dan memposisikan barang-barang, dan untungnya, ia juga seorang melankolis yang suka dengan keteraturan.

Lantas suasana berubah saat anak sudah lahir.

Ketika makan, anak kecil membuat lantai marmer yang mengkilap itu jadi kusam karena bekas nasi mereka tercecer dimana-mana. :mrgreen:

Akhirnya membuat aturan, bahwa anak-anak harus makan di tempat ini, tak boleh jalan-jalan ke tempat lain.

Sederhana bukan aturannya?

Ya, bagi orang yang sudah mengerti. Tapi bagi anak-anak? 😀

***

Begitulah.

Memang dalam hidup ini ada beberapa hal yang dianggap ‘idealis’ oleh orang lain. Dianggap berlebihan.

Tapi melankolis melakukan semua hal yang ia inginkan untuk membahagiakan diri.

Kami hidup dalam keteraturan. Kami mencintai kesempurnaan. Kami mengharapkan keindahan.

Saya yang se-dominan ini pun masih merasa berada dalam garis yang normal.

***

Saya pernah menemukan seorang tetangga kost di Makassar. Dan saya yakin ia adalah seorang melankolis yang dominan.

Setiap hari libur, ia menyapu jalanan di depan rumahnya. Hingga bersih.

Apa yang kau lihat?

Kesempurnaan adalah tujuan hidup kami.

Hidup Melankolis!

:mrgreen:

 

***

Bagi sahabat yang ingin mengetahui tipe kepribadiannya, bisa langsung tes di link TES KEPRIBADIAN.

Salam hangat,
Dari tempat paling indah di dunia …
Abied

Share artikel ini...
MasBied.com

About MasBied.com

Lovely Father. Romantic Husband. Teacher. Motivator. Influencer. Terima kasih telah berkunjung di blog sederhana ini. Semoga bermanfaat. Salam hangat, dari tempat paling indah di dunia ... ^_^